Senin, 30 April 2012

Yoad Nazriga,Sukses Belajar Ilmu Kimia, Sukses Meraup Omset Ratusan Juta

Berhasil menjual dua buah jaket motor perusahaan lain, Yoad Nazriga berani mendirikan usaha konveksi jaket motor milik sendiri. Mahasiswa pasca sarjana (S2) jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, kini mereguk omset hingga ratusan juta rupiah setiap bulan dari usaha berlabel ADN Adrenalin itu.

Tak selumrah kuliah sambil bekerja, kuliah sambil berwirausaha masih terdengar aneh di telinga. Sulit dibayangkan dua tanggung jawab besar itu dipikul seorang mahasiswa. Namun, fakta sebaliknya juga berbicara. Pengusaha mahasiswa yang telah menjadi jutawan kian merebak. Di antaranya masuk dalam daftar orang terkaya dunia, semisal Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple) dan Mark Zuckerberg (Facebook).

Inovasi yang dilakukan ketiga miliarder industri IT itu, melejitkan usahanya hingga di belahan dunia mana pun. Awalnya, mereka jeli menangkap peluang, kemudian fokus mengembangkannya – sampai-sampai drop out dari kuliahnya. Lantas, peluang itu jugalah, yang membuat Yoad Nazriga, tergoda menjadi pengusaha sambil kuliah strata satu (S1) hingga kini pasca sarjana (S2) di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia menjalankan beberapa usaha dengan mereknya masing-masing di kota Bandung, antara lain Bakso Sehat Gayuss, Tanaman Obat Kang Anda dan Mukena Katun Paris. Menariknya, usaha-usaha itu bisa dibilang gak nyambung dengan jurusan Kimia yang tengah ia pelajari di kampusnya “Sebab hidup itu luas, janganlah keluasan itu dibatasi dengan pengetahuan yang diperoleh di kampus saja,” ujar mahasiswa jurusan Kimia sejak S1 hingga kini S2 ITB ini.

“Namun semua usaha itu sudah saya suntik mati,” sambungnya. Apa pasal? Berdagang jaket motor yang merupakan mainannya yang terakhir, cukup menggelorakan adrenalin. Betapa tidak, dua buah jaket motor yang pertama kali dipajangnya di dunia maya, langsung diserbu pembeli. Saat itu juga, ia bukan hanya senang karena jaketnya laku, tetapi layaknya ilmuwan Archimedes berpekik eureka! Ia senang telah menemukan peluang menguntungkan tersebut.

Tekadnya kian bulat, awal Januari 2011 bersama rekannya, Ihsanudin, ia mendirikan usaha konveksi jaket motor berlabel ADN Adrenalin di Kota Kembang itu. Ia mengaku, konsep jaketnya memang mirip dengan jaket motor yang telah ada. Tetapi tak seratus persen ia tiru. Ia membuat jaket yang dibutuhkan segmen laki-laki usia 17 hingga 40 tahun. “Jaket motornya macho, nyaman bila dipakai serta safety,” urainya.

Sebagai jaket yang safety, kata dia, jaket motornya bisa melindungi penggunanya selama berkendara. “Terutama bila terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan,”. Untuk itu, jaket motor tersebut dilapisi beberapa bahan yang diklaim berkualitas, semisal busa empuk yang dilapisi bahan anti-slip dan anti-gores, sehingga jaket bandel alias tak bisa robek.

Sementara, dari sisi kenyamanan jaket tersebut berbahan adem atau tidak panas bila dipakai. Selebihnya, demi kesehatan, bahan jaket itu juga anti angin dan air. Tak berhenti sampai di situ, jaket itu didesainnya agar tampak macho bagi lelaki yang menggunakannya. “Resleting YKK, jahitannya saya jamin kuat rapi,” tambahnya tentang kelebihan jaket tersebut.

Awalnya ia menghadapai tantangan: sulit mencari tenaga kerja. Setelah mendapatkannya pun masih harus trial and error. Apalagi, dirinya sama sekali tak bisa menjahit. Namun modalnya, ia tahu seluk-beluk tentang jaket motor dari pengalaman berdagang sebelumnya. Alhasil, awal melempar produknya ke pasar, langsung diborong sebanyak 30 buah oleh agennya di Malaysia.

Kian menemukan bentuknya, jaket motor Yoad banyak dipesan oleh berbagai komunitas motor, perusahaan hingga yang membeli satuan. Untuk pesanan dalam jumlah banyak, ia mematok harga mulai dari Rp135 ribu hingga Rp 250 ribu. Sementara, untuk satuan dibanderol dengan harga mulai dari Rp185 ribu sampai Rp285 ribu.

“Tergantung tingkat safety, kerumitan model dan bahan yang digunakan serta banyak dan besarnya bordir,” alasan Yoad tentang perbedaan harga tersebut. Tak heran, sebulan omsetnya mencapai Rp80 juta hingga Rp100 juta. Setelah dikurangi biaya, kurang lebih Rp20 juta untung bersih dikantonginya.

Ia tak mau jor-joran mereguk manis laba jaket motornya. “Saya hanya gunakan sebagian aja yang cukup buat keperluan penting, seperti biaya kuliah dan keluarga, sisanya untuk kemajuan perusahaan,” cerita suami Novi Kurniasari. Aset usaha ditambahnya, seperti mesin, stok bahan baku dan aset perusahaan lainnya.

Yoad membuktikan, kuliah sambil berwirausaha adalah hal ringan yang dianggap berat. Buktinya, kuliah S1 Kimia di ITB ia selesaikan dengan gemilang. Prestasi kembali ia toreh dalam hal wirausaha. Baru-baru ini, ia berhasil menjadi finalis Youth Business Competition Joy Green Tea 2011. ADN Adrenalin yang berawal satu karyawan kini menggurita menjadi 14 orang karyawan dengan 10 buah mesin.

Lantas apakah setelah menimba ilmu Kimia sampai S2di kampus ternama itu, Yoad bakal bekerja di perusahaan lain bila ada tawaran menarik? “Sayang dong usaha yang telah kita bangun susah payah kemudian dilepas,” ujarnya tak sedikit pun berminat menjadi karyawan. Menjadi pengusaha, menurutnya bisa mempekerjakan orang, keuntungan jelas serta bebas berkreasi. Hanya saja, karena merupakan hobi, ia paling berminat mengajar Fisika, Matematika, Kimia hingga bahasa Arab.

Apalagi, prospek usaha yang berhubungan dengan sepeda motor kian bagus. Hal itu didukung juga oleh gaya hidup masyarakat Indonesia yang konsumtif. Jumlahnya juga sangat besar sehingga bisa dimanfaatkan untuk mereguk keuntungan berlipat. “Hampir di setiap rumah ada motor bahkan hingga pelosok pedesaan sekalipun,” katanya. Ke depan, ia berencana mengembangkan sayap untuk produk celana, rompi, sepatu hingga tekstil.


Informasi lebih lanjut
ADN Adrenalin
Perumahan Sarijadi, Blok 14, No. 114, RT 02, RW 05, Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Bandung.
www. jaketmotor.org
www.jaketadrenalin.com

Penulis : Alan Jehunat
www.pengusahaindonesia.co.id
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150652261514835&set=a.10150652260789835.414160.246167004834&type=1&theater

F-16 Motor, Bengkel Khusus Motor Lifestyle

Bengkel motor dibutuhkan saat motor rusak atau butuh perawatan. Itulah kue yang diperebutkan oleh semua bengkel motor di tanah air. Namun, berbeda dengan F-16 Motor. Pemilik motor yang mementingkan lifestyle adalah pasar yang digarapnya sendiri. Peluang memuaskan hasrat keuntungan sebagai terwaralabanya pun masih terbuka lebar. Berminat?

Motor mogok di tengah jalan, bukan perkara berat lagi. Pasalnya, bengkel motor yang memberikan jasa service kian gampang dijumpai. Bahkan, untuk jasa service yang sama tak sedikit pilihan bengkelnya. Bisa dilihat, di sepanjang jalan bengkel motor berderet dari dinding ke dinding. Selangkah di atasnya ada bengkel motor bermerek sekelas ruko serta bengkel-bengkel resmi motor tertentu.

Siapa pun yang datang ke bengkel-bengkel tersebut hanyalah faktor kebetulan saja. Semisal kebetulan motornya mogok di tengah jalan atau kejadian seperti ban gembos. Sementara untuk perawatan seperti ganti oli dan sebagainya, paling dilakukan selama periode tertentu saja.

Tidak demikian dengan F-16 Motor. Di bengkel tersebut pemilik motor sudah tak peduli lagi seberapa besar uang, jarak dan waktu yang telah dibuang demi motornya. Apa pasal? Bengkel tersebut adalah bengkel lifestyle. Seperti umumnya diketahui, yang namanya tuntutan lifestyle uang bukanlah masalah. Begitu juga yang terjadi dengan bengkel motor milik Willy Dreeskandar ini.

Bengkel ini lebih sebagai butik, fashion dan modifikasi. Sementara jasa service sengaja ditempatkan di urutan paling akhir. Hal itu karena jasa service bukanlah jasa utama seperti yang diberikan bengkel motor umumnya. “Outlet F-16 itu sudah seperti orang kalau misalnya mau beli baju masuk ke fitting room, dia coba-coba, mencari yang terbagus buat motornya,” ujar Willy tentang fungsi bengkelnya sebagai butik.

Sementara nilai fashion yang dimaksud adalah ia menjual berbagai barang motor yang sedang ngetrend alias fashionable. Jangan heran, berbagai jenis ban motor hingga velg yang tak pernah di jumpai dipabriknya sekali pun tersedia di bengkel ini. Begitu juga barang-barang motor lainnya baik buatan dalam maupun luar negeri.

Setelah berjodoh dengan barang pilihannya yang fashionable tadi, pemilik motor berlanjut mengenakannya pada motor. Mekanik F-16 Motor yang juga berlaku sebagai modifikator pun berkreasi. Di sisi lain, karena bengkelnya selalu melahirkan modifikasi yang terbaru, maka tak heran F-16 kerap meniupkan tren modifikasi baru ke seluruh Indonesia.

Sebagai misal, dahulu saat velg besar untuk motor belum umum, jauh-jauh hari F-16 sudah menciptakanya. “Kita membuat velg yang besar dari bahan velg mobil. Kalau umumnya jari-jari standartnya cuma 36 batang yang kecil-kecil, waktu itu kita bikin yang rapat, sampai 72 batang,” urainya seraya melanjutkan, sebelum tren velg besar itu turun, ia sudah membuat tren baru yang lain.

Tahun lalu, modifikasi motor skutiknya sempat mejeng di sampul depan media otomotif. Singkat cerita, kemampuan dalam menciptakan pasar dan tren, membuat bengkel motornya laris manis. F-16 bukan hanya diburu pecinta motor, tetapi juga oleh calon franchisee. Sejak berdiri tahun 2008 di Ciledug, permintaan menjadi franchisee-nya kian tinggi.

Tahun 2010 akhirnya Willy memfranchisekannya. Saat ini franchisee-nya sudah bertengger di atas angka dua puluhan. Jumlahnya akan terus bertambah, sebab dirinya tengah menyeleksi beberapa calon franchisee. Lantas, semudah apakah usaha ini bisa hidup di tangan franchisee?

Momok lamanya waktu menyelesaikan modifikasi ditangkisnya dengan membuat sistem agar modifikasi lebih cepat. “Sekarang semuanya serba instan. Kita gak bisa lagi bikin motor dengan konsep besar, modifikasi besar tetapi berlama-lama. Itu sangat tidak menguntungkan,” jelas suami Dewi Rachel ini. Manual dari sistem tersebut diajarkan kepada franchisee. Agar lebih yakin, saat awal beroperasi ia mengirim mekanik senior untuk transfer ilmu.

Mengenai sistem modifikasi instan tersebut, Willy mencontohkan, motor matik 110 cc dinaikin menjadi 150 cc. “Itu kita sudah siapkan bloknya, pistonnya, ring pistonya dan sebagainya. Pemasangannya paling butuh waktu dua jam termasuk seting karburator,” terang mantan wartawan, redaktur serta pimpinan redaksi beberapa media otomotif ini.

Untuk memiliki franchise F16, kata Willy, franchisee harus membayar management fee sebesar Rp70 juta. Selain itu, di luar biaya sewa tempat, franchisee juga setidaknya menyiapkan Rp150 juta untuk barang dan perlengkapan bengkel. “Tetapi tidak wajib sebesar Rp150 juta, tergantung kebutuhan saja,” lanjutnya. Barang-barang tergantung karakter pasar di daerah franchisee beroperasi.

Willy melanjutkan, masa kerjasama dengan franchisee berlangsung selama 2 tahun. Hanya saja tidak seperti umumnya usaha franchise, ia tak mematok royalty fee bagi franchisee. Ia juga menyiapkan dua orang mekanik yang telah dididik di F-16 pusat serta satu sales di butik untuk outlet franchisee. Perhitungan tentang pendapatan franchisee tak muluk-muluk.

“Saya sangat tidak muluk-muluk, paling banyak sehari cuma 10 motor saja,” katanya. Untuk orang yang modifikasi minimal sudah mengeluarkan Rp250 ribu per motor. franchisee juga diperkirakan bisa mengantongi margin sebesar 60 hingga 70 persen dari setiap motor.

Penulis : Alan Jehunat
Fotografer : Edi Firtson
www.pengusahaindonesia.co.id

Informasi lebih lanjut
F-16 Motor
Jl. Ciledug Raya, No.16 Ciledug-Tangerang 15157
Telp/fax: 021-73446678,021-32129916.
Website: www.f-16motor.com
https://www.facebook.com/pages/forum-pengusaha/246167004834

M. Hajaz, Dua Rumah Melayang Untuk Tambahan Modal Usaha

Tak peduli pahit getirnya menahan senang selama sepuluh tahun mengangsur rumah, M. Hajaz justru menjual rumah idamannya. Bukan seperti orang kebanyakan yang menjual rumah karena kebutuhan mendesak, ia justru menjual rumah demi keinginan liarnya menjadi pengusaha. Apakah usaha yang belum tentu untung itu bisa mengembalikan rumahnya atau justru melayang sia-sia?

Membeli rumah di Jakarta, ibarat membeli derita bagi seorang karyawan bergaji pas-pasan. Gaji yang benar-benar cukup untuk kebutuhan sebulan, harus dipangkas untuk menyicil angsuran kredit rumah. Sisa gaji diperketat agar dapur rumah tangga tetap ngebul. Selama bertahun-tahun sepanjang tenggat waktu angsuran, mereka harus menunda segala macam kesenangannya.

Bisa dibayangkan, betapa merdekanya bila rumah tersebut lunas. Seperti mengangkat piala kemenangan, sertifikat hak milik rumah tak bosan ditatap dari berbagai sudut. Kondisi demikian dialami M. Hajaz, 7 tahun silam. Karyawan level biasa ini, girangnya bukan kepalang. Rumahnya di kawasan Serpong, Banten, selesai dicicil setelah melewati jangka waktu 10 tahun.

Tak tergambarkan kelegaan serupa terjadi pada istri dan ketiga anaknya. Namun belum sempat berlama-lama menikmati nyamannya rumah sendiri, Hajaz – begitu ia disapa, berubah pikiran. Ia menjual rumah yang telah susah payah didapatkannya itu. Ia tidak sedang gelap mata. Hanya saja, alasannya mungkin terasa aneh di telinga. Merasa gajinya tak sanggup menjamin masa depan ketiga anaknya, ia ingin cari sumber penghasilan lain dengan menjadi pengusaha.

“Saya juga dianggap aneh oleh istri dan orang tua saya,” cerita Hajaz pertama kali mengutarakan niat menjual rumah kepada orang-orang terdekatnya. Ia tak terpukul, tetapi justru tertantang. Segala trik dilakukannya meyakinkan mereka. Singkat cerita, keluarganya akhirnya larut bersama tujuannya menjadi pengusaha. Hanya satu syarat yang harus dipenuhinya, usahanya harus untung bila tak ingin rumahnya melayang sia-sia.

“Sisa penjualan rumah itu saya pakai buat dp (down payment) rumah baru,” imbuhnya menjawab syarat itu dengan ide yang bisa dibilang gila tersebut. Masalah modal pun sudah ia atasi. Usaha digital printing berlabel Izzi Print mulai dioperasikannya dengan menyewa salah satu tempat di Rawamangun, Jakarta Timur. Zona baru mulai ditapakinya. Zona yang pernah dirasakannya selama 10 tahun menyicil rumah mulai terulang. Tetapi bebannya bertambah sepuluh kali lipat.

Pasalnya, selain harus menyicil rumah setiap bulan, tanggung jawab sebagai kepala keluarga harus dipenuhinya. Tak berhenti di situ, ia juga harus memikirkan biaya operasional usaha, gaji pegawai hingga sewa tempat tahun berikutnya. “Mungkin karena digital printing masih baru saat itu yang bermain di kelas bawah, usaha saya di tahun awal cukup ramai,” jelasnya. Omset dalam satu bulan berkisar di angka Rp30 juta.

Ia pun tenang. Kewajibannya aman di awal tahun. Kantong yang tadinya diprediksi bolong, tetap tebal. Namun, di tahun berikutnya ia ditampar oleh kelakuan karyawannya sendiri. “Karyawan tersebut membuat saya kehilangan order seratus persen dari klien-klien besar,” tukas pria kelahiran Gresik ini. Karyawan itu, memasukan seluruh order klien-klien besarnya ke tempat orang lain. Izzi Print pun goyang sebab pendapatannya minus.

“Saya akhirnya turun tangan mencari klien, ikut motret dan sebagainya,” jelas suami Elfi ini. Menurutnya, pembelajaran dari itu, ia lebih hati-hati lagi dalam bekerjasama dengan siapa pun. Ia mulai dari nol untuk mencari klien dalam skala besar sebab data base dibawa kabur oleh marketing yang telah berkhianat tersebut.

“Sampai-sampai saya diusir secara halus oleh pemilik tempat usaha,” ceritanya tentang dampak dari kelakuan karyawannya tadi. Namun ia tetap sabar. Ia tak melawan, tetapi berserah kepada Yang Kuasa. Ia pun mundur pelan-pelan dari tempat usaha itu, dan mencari tempat usaha lain yang lebih terjangkau. Akhirnya, tak jauh dari situ ia mendapatkan sebuah tempat yang lebih murah. Dari tempat itulah, ia kembali mencatat cerita gemilang.

Order klien besar datang kembali. Sampai-sampai ia kewalahan saking banyaknya order. Ia pun semakin tahu seluk-beluk bisnis digital printing. Kendati telah beranjak naik, Hajaz kembali gila. Cicilan rumah baru belum kelar, ia malah membeli sebuah usaha waralaba. Bukan cuma itu. Ia juga kesengsem dengan usaha laundry. “Untuk tambahan operasional dan usaha laundry ini, rumah yang sudah saya cicil tiga tahun itu saya jual lagi,” ucapnya tentang perbuatan nekatnya tersebut.

Lebih gila lagi, penjualan rumah itu tak disisihkan lagi untuk uang muka rumah baru. “Saya justru membeli mobil,” katanya. Siapa pun tak mengerti jalan pikiran Hajaz. Sudah dua kali menjual rumah, seharusnya kapok atau setidaknya membeli rumah baru lagi. Hanya saja, ia beralasan, dengan mobil itu selain bisa menghibur anak-anak, juga bisa dimanfaatkan sebagai aset yang melancarkan usahanya.

Usahanya pun berjalan lancar. Brand waralabanya dan usaha laundry bahkan telah balik modal. Dari itu, ia tinggal menunggu laba yang bertelur setiap bulannya. Izzi Print bahkan terus menerus mendapatkan order dari berbagai klien besar, di Jakarta hingga daerah melalui beberapa cabangnya.

Keputusan gila Hajaz tak keliru. Kini dengan menjadi pengusaha, ia bisa membeli rumah ketiga yang nilainya berpuluh kali lipat dari rumah pertamanya dulu. Ia juga telah memiliki mobil dan bisa menjamin masa depan yang cerah bagi ketiga anaknya. “Walau tidak terlihat, jaminan masa depan anak saya lakukan melalui berbagai asuransi,” pungkas Hajaz.


Informasi lebih lanjut:
Izziprint
Jl. Gading Raya No 21. Pisangan Timur, Jakarta Timur. Telp 021-4707313
Website: www.izziprint.com. Email: izziprint@yahoo.com
Hp: 0812 817 3900
Penulis : Alan Jehunat
Fotografer : edi Firtson
www.pengusahaindonesia.co.id
https://www.facebook.com/pages/forum-pengusaha/246167004834

Purwandi Sarmanto, Demi Menyalip Gaji Istri, Rela Bangkrut Berkali-kali

Ingin melebihi gaji istrinya yang merupakan seorang general manager perusahaan Jepang, Purwandi Sarmanto putuskan menjadi pengusaha. Mulai dari usaha riil hingga gaib ia lakoni hingga akhirnya jatuh cinta dengan Sop Janda. Sukseskah ia?

Bekerja sebagai seorang staf penelitian dan pengembangan di sebuah perusahaan ternama, masa muda Purwandi Sarmanto lebih dari cukup. Kebahagiaannya saat itu kian lengkap saat mulai memadu kasih dengan seorang wanita cantik hingga berujung naik ke pelaminan. Tak bisa digambarkan betapa bahagia awal mengarungi rumah tangga pria kelahiran Lampung itu.

Sang Istri yang rela menerima ia apa adanya, tak menuntut “setoran” besar darinya saban bulan. Sebab, tanpa dia bekerja pun dari gaji istri yang merupakan seorang general manager perusahaan Jepang, kebutuhan keluarga bisa tertutupi sepanjang hayat. Bahkan segala kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan standar yang jauh lebih mewah dari yang pernah dirasakannya.

“Saya dibeliin arloji yang harganya Rp8 juta, makan di restoran yang sekali makan Rp1 juta hingga baju atau celana seharga jutaan rupiah,” ujarnya tentang segala kemewahan yang turut dinikmati dari gaji besar istrinya. Istrinya tak pernah menganggap dia sebagai orang yang memanfaatkan situasi, begitu pun dirinya lebih menganggap posisi istrinya sebagai sebuah berkah bagi keluarga.

Namun lama-kelamaan, Pur – begitu sapaan akrabnya, merasa minder juga. Ia merasa seperti “ditaklukkan” istri oleh gajinya yang jauh lebih tinggi. Perasaan itu terus membahana dalam dirinya. “Bohong bila suami dalam posisi seperti saya tak merasa minder,” imbuhnya. Ia kian down saat berada di tengah keluarga istrinya yang rata-rata menduduki posisi puncak perusahaannya masing-masing.

Tak mau rasa tertekan itu abadi dialaminya, ia kemudian mencari solusi. Menurutnya, rasa percaya dirinya akan kembali bila penghasilannya jauh lebih tinggi dari istri. “Bila saya mengejar melalui karir, sampai mati pun gak bakal dapat,” tandas suami Dewi Susilo Utami ini. Untuk itu, ia sempat gelap mata. Ia tergiur tawaran instan oknum tertentu melipatgandakan uang dengan cara gaib. Ratusan juta hasil pinjaman dari orang tuanya pun melayang untuk hal sia-sia itu.

“Antara terhipnotis atau goblok, saya juga gak tahu,” begitu ia menyebutkan alasan percaya dengan tawaran gaib tersebut. Itulah dampak ketergesa-gesaannya saking ingin melebihi pendapatan istri. Cara keliru itu pun akhirnya ditinggalkannya. Beruntung suatu waktu ia mengikuti seminar entrepreneur sehingga terinspirasi untuk berbisnis properti.

Ia kembali meraih empati orang tuanya sehingga pinjaman modal terkucurkan lagi. Sempat untung miliaran rupiah, tetapi akhirnya kandas juga lantaran belum fasih bermain properti dengan orang yang lebih paham dunia itu. Namun, saat itu ia telah memiliki sebuah tempat yang tak tahu harus dibuat apa.

Tercetus ide untuk membuat usaha kuliner. Ia mencoba mencari begitu banyak sumber hingga browsing di internet untuk menemukan ide kuliner. Sempat menjajal makanan khas Wonogiri – tempat orang tuanya berasal, tetapi tak laris seperti yang didambakannya.

“Akhirnya ketemu ide untuk membuat sop daging sapi,” lanjutnya. Namun, itu hanya sebatas ide. Ia sendiri sama sekali tak bisa memasak. Jangankan itu, menilai sebuah masakan enak atau tidak pun dia bukan ahlinya. Tak mau menyerah dengan itu, ia pun melakukan trial and error pembuatan menu sop di rumah orang tuanya.

Tak tanggung-tanggung demi mendapatkan formula yang pas, ia menghabiskan waktu tiga bulan untuk trial and error. Koki yang juga keluarga sendiri tugasnya membuat sop setiap hari lalu dibagi-bagikan gratis kepada tetangga di kampungnya. “Sampai berapa kuintal saya beli daging sapinya,” lanjutnya. Ia mengaku, kadang-kadang masakan percobaannya membuat penduduk di kampungnya sakit perut.

Melihat kelakuannya yang hanya menghabiskan uang, orang tua dan keluarga dekatnya komplain. “Saya gak boleh masak di rumah orang tua bahkan orang tua melarang saya ke Lampung lagi saking pusingnya dengan tingkah saya,” kenangnya. Ia tak putus asa. Tempat percobaan masak pun dipindahnya ke rumah saudaranya yang lain. Hingga suatu waktu ia menemukan formula yang cocok.

“Saya berpikiran kalau sekali orang makan terus ketagihan pasti usahanya sukses,” ujarnya. Setelah sopnya sudah mencapai tahap itu, ia lalu percaya diri mengoperasikan usaha kuliner yang dinamakannya Sop Janda itu. Ide nama brand itu muncul liar begitu saja dari pikirannya. Pro dan kontra terhadap nama Sop Janda itu pun terjadi.

Mendengar nama Sop Janda, orang tuanya lebih menganggap itu sebagai rumah bordil. Saat buka pertama kali di Panjang, Lampung, dalam dua minggu pertama rata-rata pengunjungnya adalah laki-laki. Nama Sop Janda juga pernah diprotes oleh anggota dewan terhormat karena melecehkan kaum hawa. Ia tetap bersikeras, sebab nama janda ia plesetkan sebagai singkatan dari Jawa-Sunda.

Singkat cerita, setelah pengunjung merasakan menunya, akhirnya bukan “janda” yang diingat tetapi menu sopnya itu sendiri. Sop Janda pun populer di Lampung hingga akhirnya ia mendirikan dua buah outlet di daerah itu. Enam bulan berikutnya ia membuka cabang lainnya di Jakarta. Dari enam buah outlet itu hingga kini ia bisa mengantongi omset Rp500 juta setiap bulan atau laba bersih sebesar Rp100 juta. Usaha itu kini mempekerjakan 63 orang karyawan.

Akhirnya motivasi ingin menyalip gaji istri tercinta terwujudlah sudah. “Perubahan yang saya rasakan dengan menjadi pengusaha ini sederhana saja, istri saya jadi ‘takluk.’ Dia minta berapa saja saya kasih. Saya sudah punya bargaining position. Gajinya bisa ditutupi oleh penghasilan satu outlet Sop Janda,” tutupnya tertawa lebar.

Penulis : Alan Jehunat
Fotografer : Edi Firtson
www.pengusahaindonesia.co.id

Iga Bakar Mas Giri, Membuat Pelanggan Rela Berantrean

Sejak dibuka dua tahun silam, restoran Iga Bakar Mas Giri Bandung membuat pengunjungnya rela ngantre berjam-jam. Bukan hanya karena rasanya yang menggugah selera, tetapi juga iga sapi yang disuguhkan dalam setiap olahannya adalah iga sapi original. Seperti apa?

Siapa pun pasti setuju, dinginnya kota Bandung bisa menggelorakan selera makan. Tidaklah heran, berburu kuliner sudah menjadi bagian dari wisata belanja di kota berjuluk Paris Van Java itu. Beragam pilihan makanan pun kian gampang ditemui di setiap ruas jalannya. Namun, makanan yang bisa mengusir hawa dingin lebih menjadi pilihan, semisal berbagai jenis menu olahan iga sapi.

Bila sebelumnya makanan olahan iga sapi merupakan menu hotel berbintang hingga restoran kelas atas – yang bahkan rela didapatkan dengan harga lebih dari dua ratusan ribu rupiah, kini menu yang sama sudah tak lagi membolongi kantong. Kendati demikian, bagi orang Bandung yang kritis dalam berburu kuliner, harga atau kemewahan tempat bukanlah masalah bila berbicara soal rasa dan kualitas iga.

Itulah sebabnya, semenjak hari ketiga restoran Iga Bakar Mas Giri mulai beroperasi di kota Kembang itu – tepatnya di bilangan Jalan Aceh, langsung menuai animo besar warga Bandung. Pengunjung dari seantero kota itu dibuatnya rela ngantre berjam-jam demi menikmati menu-menunya. “Daging iganya asli nempel di tulang, bukan daging yang diambil dari tempat lain terus tulangnya disisipin,” ungkap Elvin Elviana, pemilik restoran itu tentang salah satu keunggulannya.

Menurutnya, bagi pecinta kuliner yang kritis pasti mengetahui mana iga sapi yang asli atau iga sapi yang tulangnya disisipi daging, seperti halnya orang Bandung yang lebih kritis tentang itu. Tak sekadar iga original, iga yang diolahnya pun bukanlah iga dari freezer yang sengaja disimpan lama, melainkan iga sapi lokal yang langsung habis diolah dalam sehari.

“Kendati terasa berat begitulah cara kami mempertahankan kualitas iga sapi,” tukas pemegang hak master franchise semua brand waralaba di bawah grup Wong Solo untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Bali ini. Dalam sehari restorannya bahkan bisa menghabiskan 300 kg hingga 1 ton iga sapi lokal.

Ukuran olahan iganya relatif tebal. Iga bakar sebagai ciri khas atau iga penyet, disuguhkan dengan porsi 150 gram dan 200 gram. Dengan ukuran seperti itu, ia tak melambungkan harganya hingga ratusan ribu, tetapi hanya dengan Rp23 ribu hingga Rp33 ribu saja. Bahkan, menu-menu tersebut sudah menjadi satu paket dengan nasi, kuah iga bakar, lalap dan sebagainya.

Bosan dengan iga bakar atau iga penyet, di restoranya juga tersedia bermacam menu olahan iga. Di antaranya sop iga, iga gule, sate iga hingga bakso iga. “Kami juga melakukan inovasi, selain iga bakar original, kami menyediakan iga bakar black pepper,” tambahnya. Rasa pedas lada hitam pada menu inovasinya itu ternyata cukup menyedot minat pengunjung.

Tak berhenti sampai di situ. Perpaduan bumbu lokal yang terasa di setiap gigitan iganya merupakan sebuah daya tarik tersendiri. Sensasi spicy atau pedas sedikit menyatu dengan aroma harum rempah yang bila dicicip terasa jelas pedas, manis dan asemnya. “Kendati tebal, dagingnya terasa kenyal bila disantap sebab telah melewati proses perebusan selama lebih dari empat jam,” lanjut dia.

Bagi yang tak kuat pedas, tak usah khawatir. Pasalnya, para pelayan di restoran ini siap mendengar apa pun permintaan pengunjung. “Di sini tidak ada kata ‘No’ semuanya ‘Yes’,” tegasnya. Bagi yang tak suka pedas, tinggal menyampaikan kepada pelayan agar tak dibuatkan menu iga yang pedas.

Menikmati olahan iga yang pas di lidah, tentu lebih enjoy bila didukung tempatnya. Ia pun mempersilakan pengunjungnya agar bisa bersantap lebih santai di dalam ruangan berkapasitas 150 orang itu. Tak ada aturan seperti larangan merokok dan sebagainya, sehingga pengunjung lebih leluasa dan nikmat dalam acara berburu kulinernya. “Bahkan desain warna yang tadinya dianggap ramai, ternyata banyak disukai pengunjung,” terangnya tetang desain interior restoran tersebut.

Alhasil, restoran yang tak absen antrean pengunjung itu, berhasil menoreh omset yang kian melesat. “Hari pertama beroperasi sebesar Rp 2,8 juta, hari kedua Rp 3,8 juta, hari ketiga sudah di atas Rp 9 juta,” katanya mengenang saat awal beroperasi dua tahun silam. Kini, omsetnya sudah bertengger di atas Rp 20 juta per hari atau tiga kali lipat dari nilai itu di saat hari libur.

“Cuma karena di sini turn over-nya tinggi, saya sengaja gak mau kasih tv dan jualan kopi. Karena itu tahan turn over. Kalau Minggu, antrean di depan sudah banyak. Kalau kita kasih kopi, kasihan yang lainnya,” pungkasnya. Saat ini restorannya pun telah menjadi icon iga bakarnya kota Bandung.



Informasi Lebih Lanjut
PT Langgeng Boga Karsa
Jalan R.E Martadinata No. 118 Bandung
Telp. (022) 4261451, Fax (022) 4262908

Penulis : Alan Jehunat
Fotografer : Edi Firtson
www.pengusahaindonesia.co.id

Gibran Huzaifah, Trial and Error Ciptakan Produk Olahan Ikan Lele Modern

Tak harus menjadi ahli kuliner bila ingin berbisnis kuliner. Trial and error tiada henti, membuat Gibran Huzaifah berhasil menaikkan nilai tambah ikan lele menjadi berbagai produk olahan ikan lele modern. Mahasiswa semester 8 jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung(ITB) itu kini menoreh omset Rp50 juta setiap bulannya.




Sebagai mahasiswa, waktu untuk belajar tentang apa pun sangatlah besar. Semangat mereka yang tinggi sebetulnya tak hanya cukup untuk aktivitas kuliah saja. Sebab, saat daya kreasinya dipertajam, karya-karya luar biasa tak jarang mengalir dari tangan anak-anak muda itu, seperti inovasi yang dilakukan Gibran Huzaifah, mahasiswa jurusan Biologi Semester 8, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Mei setahun silam, Gibran – begitu ia disapa, sibuk mencari ide mengatasi rasa jenuh yang tak kunjung pergi dari rutinitasnya sebagai mahasiswa. Sesuatu yang menantang sudah ia lewatkan sebagai mahasiswa. Akhirnya tantangan yang sesungguhnya ia dapatkan, yakni menjadi mahasiswa sambil menjadi pengusaha. Ia kemudian mencari berbagai informasi tentang entrepreneur hingga sharing dengan pengusaha lainnya agar impiannya tercapai.

“Dengan menjadi pengusaha saya ingin berbuat lebih,” imbuh kelahiran Jakarta ini. Artinya kepalanya yang selama ini banyak bertaburkan ide yang tak tersalurkan, bisa diwujudkannya melalui produk-produk baru. Ternyata Gibran tak sekadar bermimpi. Tak menunggu waktu lama, ia langsung action. Budidaya ikan lele adalah usaha yang semula dilakoninya.

“Tapi setelah dipikir agak sulit mencari pasar. Dari situ saya berpikir, daripada ikan lelenya dijual mentah, lebih baik diolah, jadi value produk lebih tinggi,” ujarnya. Peluang yang belum terbaca pengusaha lainnya saat itu, sudah ditangkap putra pasangan Amri Fauza dan Suciati ini. Menurutnya, di Kota Bandung nyaris belum ada pengusaha lain yang kepikiran memproduksi olahan ikan lele modern.

Kendati tak sedikit pun punya kemampuan dalam pengolahan ikan tersebut – mengingat belum ada pengusaha lain memproduksinya, Gibran tak putus asa. Dia tahu dari bahan baku lain, di pasaran ada produk olahan yang sudah dikenal luas. Sebut saja spaghetti, steak, nugget dan sebagainya. Lebih dari itu, ikan lele yang di-fillet atau di-nugget juga masih terbilang langka.

Ia tak mau sia-siakan peluang itu. Gibran optimis, bila ikan lele dibuat nugget atau di-fillet pasti banyak orang yang menyukainya. Begitu juga bila diolah menjadi spaghetti lele, steak lele dan nugget lele. “Saya pun trial and error menghasilkan produk olahan tersebut,” ujarnya. Lingkungan kampus merupakan tempat ia melakukan uji coba selama tiga bulan. Alhasil, formula yang pas pun ditemukannya.

Tak berhenti sampai di situ. Saat ia berhasil menemukan cara menghasilkan produk berkualitas, selanjutnya adalah bagaimana agar produknya bisa menghasilkan untung. Ia membutuhkan Rp8 juta agar bisa berproduksi. “Selain dari uang sendiri, saya juga cari investor,” kata dia. Sebuah gerai restoran ia dirikan yang kemudian berlabel Dorri.

“Untuk produk yang di-fillet atau nugget, di restoran ini saya kombinasikan dengan resep tradisional Nusantara,” katanya. Untuk itu, ia memberikan pilihan bumbu dari Aceh hingga Papua untuk menyantap olahan lelenya. Menunya pun disesuaikan dengan asal bumbu tersebut, semisal Bumbu Aceh, Saos Padang, Pecak Betawi, Peletuk Kuning Kalimantan, Rica-rica Sulawesi dan Kuah Kuning Papua.

Olahan lele yang lebih ke varian makanan pun bisa disantap, seperti steak lele, spaghetti lele, dan rolade. Dan karena masih langka, Dorri akhirnya menjadi salah satu tujuan kuliner di Bandung. Dari setiap outlet yang kini sudah menyebar sampai Bogor, ia bisa mengantongi omset Rp600 ribu setiap harinya.

“Paling kurang Rp50 jutaan omset saya dapatkan dalam satu bulan,” tukasnya. Dari usahanya itu, kini ia bisa mempekerjakan 11 orang karyawan. Dahulu uang hanya bisa didapatkan dari jatah orang tua, kini apa pun bisa ia nikmati dari hasil kerja kerasnya sendiri. Orang tuanya yang karyawan swasta kini terbantu bebannya dalam menunjang hidupnya sebagai mahasiswa.

“Alhamdulillah biaya sehari-hari, biaya kuliah, dan sekolah adik bisa saya penuhi,” tukasnya bangga. Kedua orang tua yang sebelumnya menyarankannya agar memilih jalur aman menjadi karyawan saja kini terbuka matanya. Begitu pula dengan para dosen yang sempat menyarankan untuk fokus kuliah, ketimbang menjadi pengusaha.

“Sebagai mahasiswa, seharusnya kita tidak hanya fokus kuliah saja, karena potensi kita besar. Sudah seharusnya kita menebar manfaat,” ujar peraih penghargaan Sosro Youth Business Competition kategori kuliner ini. Lagi pula, kata dia, di masa-masa seusianya, semangat masih sangat membara, waktu untuk belajar sangat banyak sehingga menjadi pengusaha merupakan pilihan tepat.

Minggu, 15 Januari 2012

Koma Untoro, “Iri” Teman Lulusan SD, Rela Tinggalkan Gaji Ratusan Juta

Demi bekerja di Bursa Efek Jakarta – sekarang Bursa Efek Indonesia, Koma Untoro harus kuliah pasca sarjana Universitas Indonesia. Ia pun berhasil mendapat tiga ijazah terkait Bursa Efek. Tiga divisi manajer didudukinya dengan penghasilan besar. Namun semuanya berakhir dengan keputusan gilanya menjadi pengusaha. Benarkah ia gila? 





Siapa yang tak mengenal Bursa Efek Jakarta (BEJ)? Setiap hembusan napas, ratusan juta transaksi terjadi di gedung pencakar langit, jalan Sudirman Jakarta itu. Sedikitnya Rp 5 triliun total transaksi terjadi sepanjang hari di sana. Yang bekerja di dalamnya bukan orang sembarangan. Selain pintar, harus sekolah setinggi mungkin. Apalagi untuk posisi manajer, seperti yang pernah diemban Koma Untoro.

Untuk jabatan tersebut, Koma – sapaan akrabnya, rela meninggalkan pegawai negeri sipil di Tegal, daerahnya berasal. Ia kemudian melanjutkan S2 di Universitas Indonesia. Hingga, di tahun 1992 ia diterima di BEJ – kini namanya Bursa Efek Indonesia. Beberapa divisi manajer BEJ gonta-ganti didudukinya. Cita-citanya tercapai. Tunjangan, bonus, asuransi, general check up dan berbagai fasilitas wah lainnya pantas dinikmatinya. Penghasilan anak petani ini bertengger di atas ratusan juta rupiah.

Jabatan itu, membuatnya sering bolak-balik ke luar negeri. Tak terhitung berapa kali ia berkeliling Indonesia untuk edukasi tentang Bursa Efek. Bahkan, pernah berlama-lama di sebuah hotel mewah membuat buku panduan keuangan untuk BEJ. Orang tuanya bangga, keluarganya bahagia. Dirinya kini bukan hanya kaya, tetapi juga pintar dan disegani di BEJ. Hanya karena jabatan direktur di perusahaan itu adalah jabatan politis, ia sebenarnya terhitung yang layak mendudukinya.

“Namun akhirnya saya dianggap gila,” cetus Koma. Apa pasal? Ibarat membakar tiga ijazahnya, yang bahkan telah diraihnya melewati sengitnya persaingan, ia mengundurkan diri dari perusahaan itu. Alasan utamanya terasa lucu bagi siapa saja di sekelilingnya saat itu, yakni ingin menjadi pengusaha. Keputusan itu membuat teman-teman maupun keluarganya, membujuk dirinya membatalkan hasrat tak masuk akalnya.

“Mereka bilang ini mungkin keputusan emosional,” ujar pria kelahiran Tegal tahun 1959. Lagi pula, tambahnya, ia sudah memenuhi harapan orang tuanya, sekolah setinggi mungkin dan bekerja di perusahaan besar. Namun begitu, setiap kali mudik ke kampung halamannya, hati Koma kerap terganjal seorang teman SD-nya. Teman itu, memiliki aset miliaran rupiah, hanya usaha jualan ikan.

“Teman SD saya itu memakai sarung setiap hari, jalan dengan cucunya. Waktu luangnya banyak. Ia hanya mengontrol usahanya. Asetnya miliaran rupiah, jauh di atas penghasilan saya sebagai manajer,” katanya tentang teman yang memiliki banyak investasi properti di kota Tegal itu. Untuk bisa seperti temannya, tak mungkin hanya bekerja dengan posisi yang dianggap tinggi di Bursa Efek. Itulah titik balik bagi Koma, sehingga kian membulatkan tekadnya berpindah kuadran menjadi pengusaha.

Lebih gila lagi, setelah resign, Koma belum memiliki usaha. Ia masih mencari-cari peluang yang cocok untuk dijalani. Saat-saat yang mendebarkan pun tiba. Biasanya rutin menerima penghasilan besar saban bulan, kini uangnya terus menipis tanpa pemasukan. Ekonominya turun drastis, sementara dapurnya harus tetap ngebul.
Ia ditekan oleh kondisi itu agar segera menemukan peluang usaha. Jurus ‘The power of kepepet’ muncul secara alamiah. Mau tak mau, ia harus kerjakan semuanya sendiri, tidak lagi dibantu staf seperti di Bursa Efek. Biasanya bekerja di ruangan ber-ac, restoran mewah hingga hotel berbintang, kini hanya di belakang komputer salah satu ruangan kerja di rumahnya. Biaya tetek bengek operasional yang biasanya ditanggung perusahaan, kini terus membolongi kantongnya.

“Bahkan saya sampai menggadaikan rumah saya,” ujarnya. Hingga berjalan beberapa bulan dengan keadaan itu, ia pun menemukan ide untuk mendekati seorang pengusaha sekolah musik ternama: Purwa Caraka. Melalui temannya, ia dipertemukan dengan musisi kondang itu. Lagi-lagi, Koma memang selalu gila. Walau tak mengerti musik sedikit pun, dirinya berani menawarkan sebuah konsep untuk ekspansi sekolah musik tersebut.

Menjadi pengusaha, kata dia, harus bisa bertahan dan sabar. Dirinya dengan penuh kesabaran menunggu keputusan pemilik sekolah musik itu untuk bermitra dengannya. Alhasil, road to be a miliarder terbuka baginya. “Akhirnya saya ditunjuk menjadi partner oleh Pak Purwa Caraka (panggilan pemilik sekolah musik Purwa Caraka red.) untuk pengembangan sekolah musiknya,” ceritanya. Di tangannya, sekolah musik yang tadinya sulit berekspansi itu bertumbuh pesat menjadi 80 gerai.

“Saya yang mengurusi manajemen hingga pengembangan franchise sementara Pak Purwa mengurusi akademik dan kurikulum dan sebagainya,” tandasnya. Koma tak salah dengan keputusannya menjadi pengusaha. Kini, bukan hanya tiga gerai sekolah musik itu ia miliki, tetapi dari kerjasama dengan owner sekolah tersebut dirinya telah memiliki aset bermiliaran rupiah. Secara aset, teman SD yang menjadi sumber inspirasi tadi sudah jauh disalipnya.

Jiwa pengusahanya kian tajam. Kini ia memiliki mainan baru, yakni usaha sate berlabel Sate Virgin, di bilangan Jalan Hasibuan, Bekasi Barat. “Saya ingin mengangkat makanan daerah melalui sate Virgin,” katanya. Sate tersebut, merupakan sate Tegal. Tetapi dimodifikasi dari sisi rasa melalui daging kambing muda, serta racikan bumbu yang membuat rasa dagingnya dominan. Itulah yang memberikan keunikan baginya sehingga menyedot begitu banyak pelanggan.

Koma akhirnya menjadi pengusaha tulen, bukan lagi seorang manajer. Waktunya terbuka luas, tak lagi berkejaran dengan waktu agar sidik jarinya terekam di mesin absen kantor. Pendapatannya kian lama, kian besar, tak seperti nominal gaji yang naiknya hanya puluhan persen setiap tahun. Bila dahulu jumlahnya jutaan, kini miliaran rupiah. “Orang-orang yang bilang saya crazy, akhirnya mengagumi saya. Bahkan, mereka menyesal, mengapa gak dari dulu menjadi pengusaha,” pungkas pria yang memutuskan jadi pengusaha di usianya yang ke 40 tahun itu. 


Penulis : Alan Jehunat
Fotographer : Edi Firtson

Senin, 22 Agustus 2011

Peluang Hot Waralaba Rocket Fried Chicken


Fried chicken, tentu tak asing lagi di lidah orang Indonesia. Makanan yang populer sejak disajikan beberapa restoran cepat saji asing ini, kini sudah merakyat Indonesia. Mulai dari anak kecil hingga dewasa pasti menyukai menu tersebut. Bahkan, besarnya minat masyarakat tanah air, membuat usaha fried chicken hadir mulai dari gerobak kaki lima hingga restoran kelas atas.

Namun siapa sangka, karena begitu banyaknya, membuat citarasanya mulai lumrah. Banyak orang yang mulai bosan dengan menu yang tak pernah berubah darinya.  Banyak pengusaha di bidang ini pun gulung tikar, sebab mereka tak mampu bersaing dengan restoran waralaba asing. Pun menjadi terwaralaba dari restoran itu pasti tak mampu dari sisi modal dan berbagai persyratan lainnya.

Solusinya: Jangan cepat putus asa mencari pewaralaba yang bisnisnya se-level restoran cepat saji asing itu, tetapi menawarkan waralaba yang terjangkau kantong. Pun persyarata tak berbelit, namun menjanjikan untung berlipat hingga dalam waktu singkat bisa kembali modal. Itulah yang menjadi kehadiran Rocket Fried Chicken (RFC), restoran cepat saji lokal Indonesia yang membuat kian banyak digemari.

Kehadiran restoran yang berasal dari kota Bandung, Jawa Barat ini, kian didambakan mitranya bukan hanya di tanah air, tetapi juga hingga manca negara, seperti Brunei Darusalam dan Malaysia. Bahkan, di dalam negeri saja sudah memiliki 21 gerai seperti di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Batam dan Kalimantan.

Menurut Rebecca Ayu, pemilik CV.Roketama Fantasi Ceria, ekspansi RFC ke luar negeri segera direalisasikan jelang akhir tahun 2011, sebab sudah ada beberapa calon franchisee yang berminat dari luar negeri. “Mereka sangat menyukai variasi menu dan konsep gerai RFC yang berbeda dengan restoran cepat saji lainnya, tetapi harganya bisa dijangkau kantong konsumen kalangan mana pun,” ujarnya, disela-sela pembukaan RFC Batam, beberapa waktu silam.

RFC menyediakan makanan cepat saji, seperti ayam goreng serta olahannya, mulai dari fried chicken (crispy & hot), chicken steak hingga burger dan hotdog yang disajikan dengan pendamping nasi, kentang, disertai variasi minuman soft drink, iced blended, juices, coffee, tea dan sebagainya. Peluang kemitraan yang ditawarkannya relatif terjangkau untuk sebuah bisnis yang memiliki prospek cerah.

Menurutnya, tipe investasi yang ditawarkan RFC terdiri dari tipe foodcourt 16m2 dengan investasi Rp 45 juta, tipe ruko 40m2 dengan investasi RP 95 juta dan tipe Mini Cafe 80m2 dengan investasi Rp 155juta. “Balik modal kami perkirakan tak lebih dari jangka waktu satu tahun,”ujarnya.

Investasi terjangkau yang berpadu dengan keunikan usaha RFC, membuat permintaan untuk menjadi mitranya terus mengalir setiap bulannya, kendati tak sedikit gerai restoran cepat saji sejenis. Hal ini karena keunggulan konsep RFC yang unik, baik dari sisi menu, pelayanan, design gerai, hingga harga yang relatif terjangkau, baik bagi konsumen maupun franchisee.  



Berminat menjadi franchisee?
Hub: Pak Bakti: 081910061881










Senin, 11 Juli 2011

Semangat Wirausaha Tanah Air!!!

Tak ada yang bisa menyangkal, seorang pengusaha bisa memberi lebih banyak untuk orang lain ketimbang menduduki jabatan tinggi dengan penghasilan melimpah di sebuah perusahaan. Dengan menjadi pengusaha, satu rupiah yang Anda dapatkan bisa menghidupi puluhan karyawan, sementara dengan jumlah yang sama ketika menjadi karyawan Anda hanya menghidupi diri sendiri - maksimal buat keluarga sendiri.

Apa pun komentar Anda tentang ini, Anda bisa membandingkan sendiri negeri yang pengusahanya 5% saja dari jumlah penduduknya, sudah bisa meminimalkan jumlah penganggurannya. Pun, negara itu tingkat ekonominya pasti jauh diatas negara kita tercinta ini. Sedangkan, negara Indonesia, jumlah pengusahanya masih 0,018%.

Apa lagi yang harus Anda katakan tentang ini? Jumlah tersebut sebetulnya mau memberitahu Anda bahwa peluang sukses Anda untuk menjadi pengusaha masih sangat besar. Putuskan untuk menjadi pengusaha sedini mungkin. Bila Anda seorang mahasiswa, belajarlah tentang entrepreneur. Atau sadari sekolah tingkat sd, smp hingga sma Anda juga perlu banyak tahu tentang dunia wiraswasta ini.

Terlebih lagi, bagi karyawan. Zona nyaman yang tengah Anda rasakan saat ini, membuat Anda malas berpindah kuadran menjadi pengusaha. Mungkin jiwa intrapreneur Anda mulai diasah dari sekarang. Ya, sekadar berjaga-jaga, siapa tahu perusahaan Anda bangkrut dan banyak lagi penyebab Anda dikeluarkan dari perusahaan.

Lagi pula, menjadi pengusaha itu harus dicoba. jangan takut dahulu. Selamat Mencoba, Semoga Anda Sukses!!!

Saya ingin mengajak Anda untuk membuat satu forum diskusi tentang how to be entreneur ini. Makasih. Salam Pengusaha Indonesia!!!

Kamis, 31 Maret 2011

Realisasi Waralaba Belum Ada


KOMPAS.com — Meski sudah memasuki tahapan usia yang ke-26, restoran cepat saji Hoka Hoka Bento belum merealisasikan waralaba. "Belumlah, belum sampai ke situ," kata Presiden Direktur Hoka Hoka Bento Hendra Arifin pada Jumat (25/3/2011).

Menurutnya, masih banyak hal yang memerlukan pembenahan agar kualitas usaha berbasis makanan khas Jepang itu makin meninggi. "Salah satunya, sumber daya manusia, termasuk kepedulian pada produk ramah lingkungan," kata Hendra dalam kesempatan peluncuran penggunaan kemasan makanan berbahan polystyrene dengan tambahan oxium.

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan, pihaknya memang selama ini menggunakan kemasan berbahan polystyrene. Kemasan tersebut sudah aman untuk makanan. Namun, kemasan macam itu membutuhkan waktu lama dalam penguraian alami. Penambahan bahan oxium akan mempercepat penguraian hanya empat tahun. Secara teknis, oxium akan membuat kemasan menjadi oxodegradable. Maksudnya, kemasan polystyrene dapat terdegradasi melalui oksidasi yang dipicu adanya ultraviolet, panas, cahaya, dan oksigen.

Hendra mengatakan, setiap bulan pihaknya menggunakan sekitar satu juta kemasan. Sementara kini ada 134 gerai Hoka Hoka Bento di seluruh Indonesia.

Penulis: Josephus Primus | Editor: Josephus Primus
Jumat, 25 Maret 2011 | 21:02 WIB

Bahan Baku Restoran Jepang Aman Radiasi

Sebaiknya pemerintah terus melakukan pengetatan bahan baku impor dari Jepang.


VIVAnews - Bahan baku restoran maupun waralaba Jepang yang ada di Indonesia dipastikan aman dari partikel radiaktif, yang mungkin terbawa pada produk-produk dari Negeri Sakurapaska gempa dan tsunami yang menyebabkan kerusakan sejumlah reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang.

"Sebab, kita selalu mengutamakan quality control (pengendalian kualitas). Itu nomor satu," kata Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, Amir Karamoy saat dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, Rabu 30 Maret 2011.

Menurut Amir, selain dilakukan pengetatan produk atau bahan baku yang akan diekspor, tindakan serupa juga dilakukan untuk impor. "Jadi, kita sampai saat ini belum menerima laporan adanya bahan baku restoran maupun waralaba yang didatangkan dari Jepang tercemar radiasi," ujarnya.

Bahkan, dia menambahkan, sampai sekarang ini pihaknya belum menerima laporan adanya restoran atau waralaba masakan Jepang yang berhenti operasi sementara atau mengalami penurunan konsumen. "Jadi, masih aman kalau di Indonesia," tutur Amir.

Kendati demikian, Amir mengatakan, sebaiknya pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan terus melakukan pengetatan bahan baku impor dari Jepang. "Sebab, soal pengetatan itu 100 persen adalah tugas pemerintah," ujarnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan memperkirakan penurunan tajam produk impor dari Jepang kemungkinan bakal berlangsung mulai April 2011. Kondisi itu tidak terlepas dari kekhawatiran radiasi yang mungkin terbawa pada produk-produk dari Negeri Sakura tersebut.

"Mungkin April nanti baru terlihat penurunan tajamnya," kata Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi, KPU Bea Cukai Tanjung Priok, Agus Rofiudin, kepada VIVAnews.com di KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, kemarin.

Menurut Agus, penurunan importasi barang dari Jepang memang sudah mulai terasa. Walaupun menunjukkan tren menurun, saat ini laju penurunan masuknya barang dari Jepang tercatat tidak lebih dari 50 persen. (umi)
• VIVAnews

Kamis, 03 Maret 2011

Duh, nikmatnya donat dan kue waralaba asal Korea


Siapa yang mengenal kue donat? Kue bulat manis dengan lubang di tengah ini banyak menjadi makanan kesukaan masyarakat. Oleh karena itu, setelah sukses dengan Lick Me Cokelat dan Lick Me Baby, Vivi Lim menawarkan waralaba Lick Me Donuts dan Lick Me Coocies.

Waralaba donat dan kue yang ditawarkan Vivi Lim ini berupaya menjembatani keinginan pelanggan yang ingin membuat kue donat sendiri. "Setiap outlet Lick Me Donuts dan Lick Me Coocies memberi kesempatan kepada pengunjung merasakan pengalaman seru membuat donat untuk di santap sendiri," kata Vivi.

Selain menawarkan konsep baru pembuatan donat, Vivi mengklaim tawaran kemitraannya lebih sip ketimbang tawaran dari yang lain. Misalnya, bahan baku dan mesin yang bisa mengolah donat dengan cepat yang semuanya masih didatangkan khusus dari Korea.

Dengan kelebihan itu, calon mitra tidak perlu menyediakan tempat luas untuk memulai usaha. "Selain itu, tidak membutuhkan pegawai yang banyak," katanya.

Dalam satu booth mini, hanya diisi satu mesin pembuat donat untuk Lick Me Donuts dan satu oven untuk Lick Me Cookies. Mesin-mesin itu akan membuat donat dan kue secara mudah dan cepat. "Tinggal menuangkan adonan di atas mesin. Setelah enam menit dan donat siap dinikmati," tambahnya.

Begitu pula pembuatan cookies, yang hanya membutuhkan waktu 14 menit dengan memasukkan adonan ke dalam oven. Konon, donat yang telah dibuat bisa bertahan 10 hari, sedangkan cookies-nya bisa bertahan enam bulan.


Dua paket waralaba

Vivi menawarkan dua jenis paket waralaba Lick Me Donuts dan Lick Me Cookies. Pertama, paket master franchise dengan investasi Rp 30 juta. Paket ini ditawarkan terpisah antara Lick Me Donuts atau Lick Me Cookies. Adapun untuk gabungan nilai investasi yang harus dibayarkan Rp 60 juta. Untuk paket ini, mitra hanya mendapatkan hak untuk menawarkan waralaba ini ke calon lain.

Adapun paket master franchise dengan investasi Rp 55 juta, selain memiliki hak menawarkan waralaba juga akan mendapat booth, peralatan dan bahan baku. Jika calon mitra paket ini menginginkan untuk memiliki Lick Me Donuts dan Lick Me Cookies sekaligus, maka biaya yang dikenakan hanya Rp 75 juta.

Kedua, individual franchise untuk Lick Me Donuts atau Lick Me Cookies dengan investasi Rp 65 juta. "Kalau dua-duanya langsung hanya Rp 85 juta. Semua tanpa royalti fee," kata Vivi. Jika mitra memilih paket ini, maka akan mendapat booth, alat dan bahan baku, tanpa hak menawarkan waralaba ke calon lain.

Vivi menghitung, paket master franchise akan memberikan profit Rp 10 juta per mitra dikurangi 35% harga pembelian bahan. Dengan tawaran keuntungan itu, saat ini sudah ada tiga mitra yang mengambil paket master franchise dengan hak eksklusif di satu provinsi.

Untuk paket individual, Vivi menghitung, 200 donat dengan harga jual Rp 8000 per donat bisa terjual. Untuk Lick Me Coockies dijual Rp 30.000 per gram dengan omzet perhari mencapai Rp 1,6 juta.

Mitra Vivi, Peni Agustini di Surabaya memilih master francise untuk Lick Me Donuts dan Lick Me Cookies sekaligus mulai Februari 2010 lalu. Peni mengaku sudah memiliki delapan calon mitra di Surabaya. "Waralaba makanan ringan saat ini lagi sangat prospektif," klaim dia.


Lick Me Donuts dan Lick Me Cookies
Jl. Taman Sari II No 64 Jakarta Pusat
Telp. 08176382582

Minggu, 27 Februari 2011

18 Tahun, Sudah Punya Puluhan Karyawan


KOMPAS.com - Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.

Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.

“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.

Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.

Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.

“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.

Victor memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya baru ada lima, kesemuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana nambah lima outlet. Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum.

“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.

Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.

Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.

“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.

Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.

Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya. (Dwi Pramesti YS)

Jumat, 25 Februari 2011

Sukses Bikin Donat Dalam 6 Menit



INGIN makan donut tapi tak ingin dipusingkan dengan proses yang meribetkan? Berpetualang saja bersama Lick Me Donuts. Anda tak hanya dapat menikmati donut, tapi juga berperan sebagai chef yang membuat donut untuk Anda santap sendiri.

Donut memang salah satu makanan yang banyak disukai semua kalangan. Selain karena kelezatannya, teksturnya yang ringan dan lembut menjadikan makanan ini banyak disukai. Sayangnya, kelezatan donut tersebut tak dibarengi dengan kemudahan dalam proses pembuatannya. Butuh waktu yang tak sedikit untuk membuat adonan donat yang merupakan perpaduan dari tepung terigu dan ragi tersebut. Karenanya, banyak orang memilih untuk menikmati donut dengan membelinya di pasar. Alhasil, sensasi makan donut pun tetap dapat terpenuhi.

Melihat antusias masyarakat terhadap makanan berbentuk cincin ini sangat tinggi, gerai donut pun menjamur di mana-mana. Dengan fasilitas tersebut, Anda pun tak lagi dipusingkan dengan proses pembuatan donut yang njlimet dan tetap dapat memanjakan lidah Anda dengan kelezatannya.

Nah, salah satu yang memanjakannya adalah Lick Me Donuts. Donut asal Korea ini menawarkan sensasi lain menikmati donut. Mungkin Anda rindu pada saat-saat membuat donut. Karena itu, Lick Me Donuts memberikan kesempatan pada para pembeli untuk mengolah sendiri donut yang akan disantapnya.

Di gerai mungil Lick Me Donuts tersebut, Anda dapat merasakan jadi chef donut andal. Tak perlu sibuk mengaduk adonan, karena Lick Me Donuts sudah menyediakan langsung material yang akan dipanggang. Anda cukup menuangkannya di panggangan sesuai dengan rasa yang diinginkan. Dan tunggu selama 6 menit 30 detik, makanan ini pun siap disantap.

Pilihlah topping yang Anda sukai untuk menambahkan cita rasa lain yang lebih nikmat. Bagaimana? Mudah bukan? Jika tak ingin menikmatinya langsung, Anda dapat menyimpannya di lemari es terlebih dahulu. Tak perlu khawatir akan perubahan rasa dan tekstur pada donut yang akan Anda santap.

“Meski melalui proses pembekuan masyarakat tak perlu khawatir soal rasa dan juga kekenyalan donut tersebut. Tidak akan ada perubahan sedikitpun. Itulah kelebihan kami,” ungkap Vivi Lim Lick, owner Me Donuts & Cookies saat ditemui okezone di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (23/2/2011).
(tty)

McDonald's Balik Lagi ke Sarinah

Umi Kalsum, Febry Abbdinnah



VIVAnews - Pertengahan tahun 2009 lalu, Bambang Rachmadi terpaksa meninggalkan McDonald's setelah asetnya di PT Bina Nusa Rama beralih ke PT Rekso Nasional Food. Perseteruan antara Bambang dan pihak McDonald's International kemudian terjadi. Bambang lalu mendirikan waralaba baru dengan mengusung nama Tony Jack's tepat 1 Oktober 2009. Lokasinya masih di bekas McDonald's pertama kali berdiri di Indonesia, Gedung Sarinah, Thamrin.

Namun usia Tony Jack's tidak panjang. Setelah lebih dari setahun membuka gerainya di Sarinah, resto cepat saji ini terpaksa ditutup. PT Sarinah terpaksa menenderkan lokasi di lantai dasar itu kepada pihak lain. PT Rekso Nasional Food (produsen Sosro) yang mengusung waralaba McDonald's di Indonesia tidak menyia-nyiakan tawaran itu.

"Ini sebuah kesempatan bisnis," kata Presiden Direktur PT Rekso Nasional Food Sukowati Sosrodjojo dalam keterangannya di Sarinah, Thamrin, Minggu 13 Februari 2011. Tepat tengah malam nanti, pukul 00.00 WIB, Senin 14 Februari 2011, PT Rekso Nasional Food akan membuka gerai McDonald's yang ke 112 di lokasi itu.

Sekadar mengingatkan, Juni 2009 lalu, Bambang sempat memprotes peralihan aset PT Bina Nusa Rama (perusahaan joint venture Bambang dan McDonald's) ke PT Rekso Nasional Food karena ia merasa tidak dilibatkan dalam penjualan aset 97 restoran. Bambang hanya disisakan 13 gerai, dan setelah penjualan aset itu ia dilarang mengusung nama McDonald's.

Bambang yang kecewa kemudian menggugat McDonald's yang berpusat di Negeri Paman Sam dan pemegang saham baru McDonald's. Ia juga mengajukan uji materi UU Perseroan Terbatas pasal 102 tentang penjualan aset.

Kisruh waralaba ini sempat menjadi sorotan. Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kadin Indonesia Amir Karamoy saat itu sempat mengusulkan agar bisnis waralaba juga diawasi Bapepam-LK agar kasus seperti McDonald's tidak terulang lagi.

Sebab kasus perseteruan McDonald's dengan Bambang Rachmadi diduga terjadi karena tidak adanya mekanisme clean break dalam perjanjian franchise. Padahal dalam PP No. 42 tahun 2007, telah mengatur mekanisme clean break tersebut. Jika ada pemutusan perjanjian waralaba, maka kedua belah pihak diminta untuk sepakat.
• VIVAnews

Kamis, 24 Februari 2011

Nikmatnya Donut Panggang dari Lick Me Donuts

INGIN merasakan sensasi lain dari donut? Coba saja donut panggang ala Lick Me Donuts. Rasanya dijamin menggoyang lidah.

Selama ini mungkin donut yang kita kenal dan sering kita rasakan merupakan donut yang diproses melalui tahap penggorengan. Ciri khas dari makanan yang memiliki lubang di tengah ini pun ringan dan lembut saat dikunyah. Dengan keunggulan tersebut, tak heran kalau makanan ini digemari semua kalangan. Apalagi variasi rasa yang ditawarkan gerai donut tersebut cukup beragam. Namun, dari kebanyakan donut yang beredar di pasaran tersebut rata-rata mengedepankan varian rasa di bagian atas, sementara bagian dasar donutnya tampil dalam bentuk polos.

Berbeda dari kebanyakan, Lick Me Donuts pun menawarkan sensasi lain yang menggugah selera. Brand donut yang berasal dari Korea ini memunculkan donut dasar yang memiliki rasa.

“Jadi, tanpa perlu menambahkan toping, Anda sudah dapat merasakan kelezatan donut ini,” ujar Vivi Lim selaku owner yang ditemui saat launching Lick Me Donuts, di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (23/2/2011).

Keunggulan lainnya dari donut ini adalah proses pembuatannya yang dipanggang dan bukan digoreng seperti donut pada umumnya, sehingga tekstur donut yang dihasilkan jauh lebih padat dan lembut saat tenggelam di mulut. Tak hanya itu, donut ini pun menawarkan kepadatan roti di dalamnya. Saat menggigitnya pertama kali, Anda tak akan lagi menemukan kekosongan di bagian tengah makanan berbentuk cincin ini. Pasalnya sekali Anda menggigit, Anda langsung dipuaskan dengan tekstur roti yang padat, kenyal, dan garing. Ini dikarenakan efek proses pemanggangan yang dilakukan Lick Me Donuts. Karenanya, tak ada lagi minyak berlebih yang menempel di tangan saat Anda memegang donut. Anda pun tak perlu khawatir mengonsumsinya dalam jumlah banyak, karena tak ada penggunaan minyak yang bakal mengancam kolesterol Anda.

Bagaimana, sudah tak sabar ingin menggigitnya? Sebaiknya simpan rasa penasaran untuk menikmatinya karena donut ini baru resmi rilis di pasaran 1 bulan mendatang di Emporium Mal Pluit dan Mal Kelapa Gading.
(tty)

Selasa, 22 Februari 2011

Dokter Yang Gemar Berbisnis

Bakat berbisnis dokter yang bernama lengkap Martina Sylviarini ini, kian terlihat ketika ia mendirikan Moeslem Baby School tahun 2006 silam di kota Malang, Jawa Timur. Sekolah baby muslim itu, terus berkembang, hingga belum lama ini berekspansi dengan pola franchise.

Vivi – begitu lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang disapa, mendirikan Moeslem Baby School sejurus dengan kecintaannya akan dunia anak-anak serta sebuah tujuan mulia untuk mempersiapkan generasi bangsa yang terbaik.

“Saya mencintai dunia anak-anak dan saya ingin ada satu sekolah yang betul-betul memperhatikan tumbuh kembang anak secara holistik tidak hanya dari sisi pendidikan tetapi juga secara medisnya,” pungkas ibu tiga anak ini.

Sebagai seorang dokter, dirinya mengatakan, dokter juga harus bisa berbisnis karena bila tidak memiliki kemampuan menjual maka tidak bisa mendapatkan pasien. Berbisnis dengan mendirikan Moeslim Baby School, dikatakan sebagi seni berbisnis.

Dokter kelahiran Malang tahun 1979 , sudah memiliki bakat berbisnis sejak kecil. “Saya suka bisnis, dari sekolah dasar dengan menjual apa saja ke teman-teman saya. Saya rasa bisnis itu ada gunanya,” ceritanya.

Membangun sebuah Moeslem Baby Schoo ada sebuah tantangan baginya. Tetapi sebesar atau sekecil apapun tantangannya, kalau dasarnya sudah suka dengan bidang bisnis itu apapupun akan terasa mudah.


By: Alan Jehunat

Senin, 21 Februari 2011

14 Waralaba Lokal Siap Go Internasional

14 Waralaba Lokal Siap Go Internasional

Solo, CyberNews. Empat belas (14) waralaba lokal siap menembus pasa global, tahun ini. Sementara 20 waralaba dipersiapkan untuk tujuan yang sama di 2011. Menurut Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba Lisensi Indonesia (wali) sekaligus ketua komite tetap waralaba dan lisensi Kadin, Amir Karamoy, waralaba itu antara lain bergerak di sektor kuliner (Resto), spa, dan salon.

Malaysia, Singapura, dan Brunai menjadi tujuan pasti ekspor waralaba tersebut. Sementara Korea Selatan dan negara negara di Afrika masih dalam penjajakan karena masih rumit prosedurnya. "Untuk ekspor waralaba ini disediakan kredit hingga Rp 2 triliun. Mudah-mudahan dalam dua bulan lagi bisa terealisasi, saat ini kita sedang menunggu negosisiasi," kata dia.

Ditemui di sela-sela Central Java Waralaba Fair 2011 di Graha Solo Raya, Jumat (4/2), Amir mengatakan, dengan besarnya jumlah penduduk dan tingginya daya beli masyarakat, Indonesia bisa dibilang pasar potensial waralaba internasional. Banyak perusahaan waralaba asing, terutama negara-negara yang serumpun dan mempunyai kultur yang sama, seperti Timur Tengah, Malaysia dan Brunei Darussalam melirik pasar Indonesia, meski jumlah waralaba asing cukup banyak.

Menurut Amir, setidaknya sudah ada 200 waralaba asing yang beroperasi, terutama di kota-kota besar. Dari 200 unit itu, setidaknya memberi kontribusi sebesar 60 persen dari total penjualan usaha waralaba yang diperkirakan sekitar Rp 100 triliun di 2010. Meski kontribusi hanya 40 persen dalam penjualan, namun jumlah waralaba lokal lebih banyak ketimbang asing.

( Langgeng Widodo / CN14 / JBSM )

DVD Club, Pilih Film dengan Layar Sentuh

DVD Club, Pilih Film dengan Layar Sentuh
Jakarta Jakarta / Metropolitan / Senin, 21 Februari 2011 13:58 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Marak DVD bajakan tak sepenuhnya menggerus bisnis usaha penyewaan DVD original di Jakarta. Itu ditandai dengan munculnya usaha waralaba DVD original yang menawarkan harga lebih murah daripada membeli DVD bajakan.

Adalah DVD Club yang hadir menawarkan konsep unik dan menarik. Meminjam DVD di tempat ini tidak dilakukan konvensional. Pelanggan tidak akan melihat jajaran DVD film favorit, seperti toko-toko lain.

DVD Club menyediakan komputer layar sentuh untuk pelanggan mencari judul film. Konsep itu tidak membutuhkan ruangan besar maupun rak-rak panjang untuk menempati DVD.

Pelanggan juga tidak perlu membayar uang jaminan saat meminjam. Pelanggan hanya perlu membayar Rp5.000 untuk menyewa satu film per hari. Sementara untuk film lama hanya dikenakan Rp3.000 perhari.

DVD Club telah memiliki enam gerai di Jakarta, di antranya Kembangan, Tanjung Duren, dan Kelapa Gading. Pengelola mengembangkan sistem jemput bola, yakni penyewaan DVD lewat mobil box keliling dan tetap dengan layar sentuh.

Konsep usaha tersebut digagas Nurmatulah. Ia mengaku tidak takut dengan ancaman DVD bajakan karena usahanya memiliki pelanggan tersendiri. Pelanggan di DVD Club telah mencapai ribuan. Dalam sebulan, Nurmatulah mampu mengantongi keuntungan hingga Rp10 juta.(IKA).

Bawa Donat Kampung ke Mancanegara


Oleh: Hardina S.
Persaingan bisnis donat di Tanah Air makin sengit. Berbagai merek terkenal yang sudah masuk dalam jaringan waralaba donat mudah dijumpai di berbagai mal khususnya Surabaya.
Bagaimana dengan Donat Kampung Utami? Mungkin merek yang satu ini masih terasa asing di telinga kita. Padahal, donat ini sudah go public lho. Setidaknya kalau Anda lagi melancong ke negeri jiran Malaysia,  outlet donat ini sudah mejeng di mal-mal sana. Kue bolong tengah itu merupakan hasil olahan Rosidah Widya Utami (35).
Bila Anda punya rencana ke kota Jombang,  selain bisa berziarah ke makam mantan presiden RI, Gus Dur , Anda sekaligus dapat belanja oleh-oleh dari kota santri ini, yakni donat.
Anda mungkin bertanya-tanya apa kelebihannya? Donat Kampung Utami (DKU) bukan sembarang donat. Meski dibandrol hanya Rp 500,- tapi soal rasa, kue ini tak kalah dibanding donat-donat yang dijual di mal. “Biasanya, kue donat harga Rp 500 an, rasanya ya seperti itu. Tapi saya ingin menunjukkan bahwa meski hanya Rp 500, orang sudah bisa menikmati donat yang enak,”kata wanita jebolan Sarjana Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya itu.
Dan di tangan wanita yang akrab dipanggil Utami ini, donat 500 an tersebut semakin beda, dengan cara promosinya melalui fasilitas blog.
Tak heran bila dalam waktu singkat, DKU dikenal luas. Order pun mengalir deras. Sering kali Utami merasa kewalahan untuk memenuhi pemesanan.
Bukan hal mudah untuk membesarkan nama DKU hingga terkenal seperti sekarang. Tak beda dengan pengusaha sukses pada umumnya, dia juga menempuh jalan penuh liku agar produknya bisa diterima pasar. Di awal-awal usahanya, hampir setiap hari, antara yang terjual dan sisanya, selalu lebih banyak sisa. "Padahal, menurut saya, donat buatan saya murah, enak, dan bersih. Saya juga heran, kok, enggak laku." Di tengah kebingungan, muncul ide segar. Bersamaan dengan ditemukannya nama yang pas, Donut Kampoeng Utami, produknya dikemas secara menarik, diberi label yang berisi alamat lengkap dengan nomor telepon plus layanan SMS. "Label, kan, ibarat kartu nama. Dari 100 buah donat yang terjual, logikanya, 100 orang jadi tahu nama dan alamat tempat tinggal saya."
benar saja. Telepon di rumahnya terus berdering. Sebagian memesan, lainnya sekadar tanya harga. "Bagi saya, tak masalah. Yang penting, orang sudah kenal DKU," kata Utami yang sejak itu banyak komunitas ibu-ibu pengajian di Jombang memilih donat bikinannya sebagai suguhan.
Tak puas di situ, Utami terus melakukan inovasi-inovasi baru untuk produknya. Butuh waktu delapan tahun bagi wanita berkerudung ini untuk bisa menghasilkan empat resep donat, kelas standar, (Rp 500-an), medium (DKU), premium dan platinum. Khusus untuk premium dan platinum dia membuka kesempatan bagi pihak lain untuk bekerja sama dengan sistem franchise.
Dijual di Malaysia

Meski di kota-kota lain di tanah air donat Utami masih sulit dijumpai bukan berarti peminatnya hanya berkisar di kota Jombang. Buktinya, donat Utami malah sudah dijumpai di Malaysia. Investor dari mancanegara itu meminta Utami untuk terbang ke negerinya, agar memberikan pelatihan sekaligus mengenalkan resep buatannya. “Sekarang di Malaysia, sudah ada lima gerai mewah yang menjual donat saya, dengan nilai investasi miliaran rupiah,”ungkap wanita yang mendapat royalty dari hasil penjualan produknya untuk jangka waktu selamanya.
Sebetulnya, ada dua investor  lain yang berminat membuka gerai serupa, yakni dari Arab Saudi dan Brunei. Tapi permintaan itu dengan berat hati tidak bisa dipenuhi. “Soalnya mereka meminta saya agar stay di sana, ya saya jelas nggak bisa,” ucap wanita yang mengaku mengawali bisnis ini dengan modal hanya Rp 100 ribu itu.
Bukan itu saja yang membanggakan dirinya. Dilihat dari persaingan, donat Utami di Malaysia bisa dikatakan sudah sekelas dengan donat papan atas lain seperti JCo dan Big Apple. Bagaimana dengan persaingan di dalam negeri sendiri? Bukankah donat Utami boleh dikatakan bermain ‘sendiri’ di kelasnya? “Saya sebetulnya lebih suka kalau ada banyak pesaing. Jadi kita malah bisa mengukur kemampuan kita sampai dimana,” kata wanita kelahiran Malang, 8 September 1973 ini.
Hanya, jujur dia mengharapkan bahwa karya donatnya itu mendapat respon positif dari investor lolal. “Karena pada dasarnya tujuan utama saya membesarkan donat  ini bukan semata-mata cari untung, tapi untuk  memberi kebanggaan pada Indonesia bahwa ada juga lho anak bangsanya yang bisa melahirkan donat kelas dunia,” kata Utami yang mengaku omzetnya per bulan mencapai Rp 40 juta.
Menurut Utami, sebenarnya dia tidak akan menyerahkan formula donat tersebut kepada pengusaha asing andai saja ada investor lokal yang berminat mengembangkannya. Utami merasa, pengusaha Indonesia sepertinya justru lebih tertarik membeli karya dari orang asing ketimbang karya bangsanya sendiri. "Orang kita lebih senang membeli franchise yang berasal dari luar negeri. Padahal, orang kita bisa, kok, membuat donat selezat buatan luar negeri. Nyatanya, karya saya sekarang sejajar dengan buatan luar negeri," ujarpenghobi  masak ini.
Kecintaan Utami pada dunia kuliner tidak bisa lepas dari peran sang Ibu. Maklumlah, memang sosok sang bundalah yang banyak mengajarkan sekaligus mendorong Utami hingga akhirnya dia tak bisa  lepas dari dunia tata boga.
Setelah menyandang status ibu rumahtangga,sebetulnya Utami sempat meninggalkan urusan dapur kue, dengan mengalihkan perhatian pada toko kelontong miliknya. Tapi kecintaannya pada bidang kuliner yang telanjur melekat membuat pemilik bintang virgo ini tak kuasa menolak panggilan jiwa boganya. “Saya akhirnya memutuskan untuk jualan kue donat,” tandasnya.
Setiap ada waktu luang dia mengolah bahan-bahan kue hingga menemukan formula yang tepat untuk menghasilkan donat yang enak, dan bisa dijangkau konsumen khususnya untuk warga Jombang. “Pada awalnya sulit untuk menjual donat ke pasaran. Saya benar-benar harus melakukan edukasi lebih dulu. Bahwa makan donat bukan merupakan sesuatu yang glamor. Ini bisa dibuktikan dengan harganya yang relative terjangkau,” paparnya.

Kini, setelah nama dan produknya sudah terkenal,Utami tak pernah lelah mengajarkan kepada para karyawannya yang mencapai 12 orang itu agar tidak takut untuk mencoba. “Saya katakana bahwa untuk membuat donat seenak Donat Utami tidak harus menggunakan teknologi modern. Cukup dengan peralatan standar seperti mixer sudah bisa.Asal tahu bagaimana mengolahnya untuk bisa membuat donat yang enak,” tandasnya. *